Kamis, 06 Desember 2012

Analisis Total Minyak Atsiri


Analisis Total Minyak Atsiri
Pendahuluan
Minyak Atsiri merupakan suatu minyak yang mudah menguap (volatile oil) biasanya terdiri dari senyawa organik yang bergugus alkohol, aldehid, keton dan berantai pendek. Minyak atsiri dapat diperoleh dari penyulingan akar, batang, daun, bunga, maupun biji tumbuhan, selain itu diperoleh juga terpen yang merupakan senyawaan hidrokarbon yang bersifat tidak larut dalam air dan tidak dapat disabunkan. Beberapa contoh minyak atsiri yaitu minyak cengkeh, minyak sereh, minyak kayu putih, minyak lawang dan dan lain-lain.
Penetapan yang dilakukan dalam praktikum ini ialah:
  1. Penetapan kadar eugenol dalam minyak cengkeh
Minyak atsiri yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan cengkeh. Sebagian besar Eugenol. Eugenol termasuk golongan Fenol, sehingga dapat disabunkan oleh NaOH membentuk garam. Natrium eugenolat yang larut dalam air. Dengan melakukan penyabunan minyak cengkeh pada alat labu Cassia yang berskala pada lehernya, karena terpen tidak dapat disabunkan dan tidak larut dalam air, maka volume terpen bisa diketahui. Volume minyak eugenol dapat diketahui dari selisih anatara volume minyak cengkeh dikurangi volume terpen.
  1. Penetapan kadar sitronellal dalam minyak sereh
Minyak sereh diperoleh dari hasil penyulingan batang atau akar tumbuhan sereh. Minyak sereh merupakan sumber geraniol dan sitronellal. Mutu minyak sereh ditentukan oleh kandungan kedua komponen tersebut terutama sitronellal. Sitronellal termasuk golongan alkanal. Sehingga dapat ditetapkan dengan Metode Asidimetri, dimana sitronellal direaksikan dengan hidroksilamin-HCl akan membebaskan HCl, lalu HCl  direaksikan dengan KOH-alkohol berlebih, maka kelebihan KOH-alkohol akan dititar oleh HCl. Dengan dilakukan blanko, maka kadar sitronellal dapat diketahui.
Penetapan Kadar Eugenol
Dalam Minyak Cengkeh
Dasar
Eugenol termasuk golongan Fenol yang dengan NaOH akan membentuk Na-Eugenolat yang larut dalam air. Sedangkan terpen tidak disabunkan dan tidak larut dalam air, sehingga volume terpen dapat diketahui. Dengan diketahui volume terpen, maka volume Eugenol pun dapat diketahui.
Reaksi          
kadar-eugenol-minyak-cengkeh
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan:
  1. Pipet gondok 10 ml
  2. Labu Cassia 100 ml
  3. Penangas air
  4. Gelas ukur
Bahan-bahan yang digunakan:
  1. Minyak cengkeh
  2. Larutan NaOH 10 N
Cara Kerja
  1. Dipipet 10 ml minyak cengkeh
  2. Dimasukkan ke dalam labu Cassia 100 ml
  3. Ditambahkan 35 ml NaOH 1 N, lalu dkocok selama 5 menit
  4. Dipanaskan di atas penangas air selama 10 menit
  5. Ditambahkan lagi NaOH 1 N sampai permukaan cairan berada pada skala labu Cassia
  6. Didiamkan selama 1 hari
  7. Dibaca volume terpen
Contoh Data
Volume contoh     =  10,0 ml
Volume terpen                    =    1,5 ml
Volume eugenol    =    8,5 ml
Contoh Perhitungan
rumus-kadar-eugenol

Penetapan Kadar Sitronellal
Dalam Minyak Sereh
Dasar
Sitronellal merupakan golongan aldehid yang bersifat pereduksi sehingga dengan hidroksilamin-HCl akan membentuk oksima dan membebaskan HCl. HCl yang dibebaskan, direduksikan dengan KOH-alkohol berlebih terukur, lalu kelebihan KOH-alkohol berlebih terukur dititar oleh HCl memakai indikator BTB yang dalam keadaan netral berwarna hijau.
Reaksi
penetapan-kadar-sitronellal
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan:
  1. Neraca
  2. Pipet tetes
  3. Pipet gondok 10 ml dan 25 ml
  4. Buret 50 ml
  5. Statif
Bahan-bahan yang digunakan:
  1. Contoh minyak sereh
  2. Alkohol netral
  3. Indikator BTB
  4. KOH-alkohol
  5. NH2OH.HCl
  6. Larutan HCl 0,5 N
Cara Kerja
  1. Ditimbang ± 2 gram minyak sereh
  2. Ditambahkan 2 ml alkohol netral, serta indikator BTB
  3. Ditambahkan 25 ml KOH-alkohol (dipipet)
  4. Ditambahkan 20 ml NH2OH.HCl
  5. Dikocok dan dibiarkan selama 15 menit
  6. Dititar dengan HCl 0,5 N hingga titik akhir berwarna hijau
  7. Dilakukan penetapan terhadap blanko
Contoh Data
contoh-penetapan-sitronellal
Vpenitar blanko = 23,70 ml
Vpenitar contoh = 21,25 ml
N HCl 0,5 N        = 0,4396 N
Contoh Perhitungan
contoh-perhitungan-kadar-sitronellal
Hasil Analisis
Hasil analisis total minyak atsiri dibandingkan dengan SNI No. 0075-79 dan SII No. 0006-72 adalah sebagai berikut:
Parameter
Hasil
Standar
% Eugenol
85,0 %
79 – 93 %
% Sitronellal
8,27 %
> 35 %
Pembahasan
Pada hasil analisis diperoleh penyimpangan pada kadar Sitronellal dalam minyak sereh, hal tersebut bisa disebabkan oleh adanya Sitronellal yang terbang dalam udara/suhu kamar karena sebagian minyak atsiri bersifat mudah menguap atau ketika melarutkan minyak atsiri dengan alkohol netral, mungkin alkohol yang digunakan belum benar-benar netral, sehingga alkohol tersebut akan berekasi dengan KOH, sehinga diperoleh kesalahan negatif.
Simpulan
Setelah melakukan analisis total minyak atsiri dan hasil analisis dibandingkan dengan SNI No. 0025-79 untuk minyak sereh dan SII No. 0006-72 untuk minyak cengkeh, maka dapat disimpulkan minyak sereh yang dianalisis memiliki mutu kurang baik dan minyak cengkeh yang dianalisis memiliki mutu baik.
Daftar Pustaka
Djalil, Latifah Abdul. 2003. Penuntun Praktikum Kimia Analisis Terpadu. SMAKBo : Bogor.












Laporan Biotoksin Sereh dan Tembakau


I.                   PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang
Biotoksin adalah racun yang didapat pada biota atau makhluk hidup. Racun pada biota dapat berupa racun asli, yakni biota itu sendiri maupun akibat kontaminasi dengan bahan beracun. Racun akibat kontaminasi ini adalah racun sekunder dan tidak asli, sedangkan biotoksin adalah racun asli. Ada dua jenis racun asli, yaitu :
1.         Organisme itu sendiri beracun bagi manusia
Missal : ikan yang memang dagingnya beracun
2.         Racun yang dimasukkan ke organisme lain sebagai defens biota tersebut.
Misal : ular, laba-laba. Tanaman juga banyak yang beracun, demikian juga dengan bakteri dan fungi.
Tembakau ialah hasil pertanian yang diproses daripada daun tumbuh-tumbuhan genus Nicotiana yang segar. Tembakau merupakan tanaman yang dikenal sebagai bahan dasar rokok. Pada tembakau terdapat kandungan berbagai jenis zat didalamnya dan zat yang paling banyak di dalamnya adalah nikotin. Nikotin tergolong biotoksin yang terdapat pada tanaman tembakau. Kemampuan racun nikotin ini ternyata berguna pada pertanian yaitu sebagai pestisida biologi untuk menanggulangi hama pertanian. Sifatnya beracun bagi organisme lain, tetapi tidak untuk lingkungan.
Tanaman lain yang juga mempunyai biotoksin di dalam tubuhnya adalah tanaman sereh ataupun serai. Serai merupakan tumbuhan herba menahun dan merupakan jenis rumput-rumputan dengan tinggi tanaman sekisar 50-100 cm. Daun tunggal berjumbai; panjang sekira 1 meter; lebar 1,5 cm, tetapi kasar dan tajam; tulang daun sejajar; permukaan atas dan bawah berambut serta berwarna hijau. Batang tidak berkayu, berusuk-usuk pendek, dan berwarna putih. Akar serabut perbanyakan dengan pemisahan tunas atau anakan. Manfaat serai , terutama pada batang dan daun yang kering Saat ini tanaman ini telah dikembangkan menjadi obat nyamuk, karena mampu membunuh serangga nyamuk.
1.2.            Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui toksisitas pada kandungan biotoksin yang dimiliki tanaman sereh dan tembakau pada perairan terutama organisme airnya.

I.                   METODELOGI

2.1.            Alat dan Bahan
1.      Ember/Baskom
2.      Larutan Sereh (Ekstrak)
3.      Larutan Tembakau (Ekstraksi)
4.      Gelas Ukur
5.      Ikan Mas
6.      Stopwatch
2.2.            Cara Kerja
1.         Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
2.         Isi kedua ember/baskom dengan  volume 4L air pada masing-masing baskom..
3.         Masukkan 3 ikan mas ke dalam masing-masing ember/baskom berisikan air.
4.         Lalu masukkan 50 ml larutan Sereh dan 25 ml larutan tembakau ke ember yang berbeda, setiap 5 menit selama 15 menit.
5.         Lihat perilaku ikan setelah diberi pemutih atau pewangi.




II.                HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1.            Hasil Pengamatan
Waktu
Tumbuhan Sereh
Tumbuhan Tembakau
0 menit
Ikan mas bergerak secara bebas di dalam air, tenang, dan lincah.
Ikan mas bergerak secara bebas di dalam air, tenang, dan lincah
5 Menit ke-1
Ikan tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap kebradaan sereh
Ikan tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap tembakau
5 Menit Ke-2 (10 menit)
Terdapat 1 ikan yang mulai panik, bergerak ke permukaan air
Ikan tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap tembakau
5 Menit Ke-3 (15 menit)
Terdapat 1 ikan yang loncat keluar dari ember/baskom.
Ikan tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap tembakau

3.2.            Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan uji toksisitas untuk bahan-bahan yang berasal dari alam. Kandungan racun di dalamnya dikenal juga dengan istilah biotoksin. Biotoksin ini dapat berada pada hewan maupun tanaman, namun pada praktikum ini pengujian kandungan biotoksin dilakukan pada jenis tanaman. Jenis tanaman yang digunakan untuk mengetahui pengaruh biotoksin yang dimilikinya terhadap organisme atau hewan air adalah tanaman sereh/serai dan tembakau. Tanaman Serai  dan tembakau ini dibuat ekstraknya terlebih dahulu dalam bentuk cair dengan merebusnya dalam air mendidih. Air hasil rebusan inilah yang disebut ekstrak, yang kemudian akan diuji pada hewan air.
Hewan uji yang digunakan pada praktikum ini adalah ikan mas. Ikan mas dipilih menjadi hewan uji karena sifat yang dimilikinya cukup sensitif terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya yaitu perairannya.  Pada masing-masing ember/baskom diisi air dan diisi oleh ikan mas yang ukurannya hampir sama sebanyak 3 ikan. Uji toksisitas yang dilakukan ini hanya bersifat kualitatif, yang berarti hanya melihat perilaku dari ikan.
Tanaman Sereh yang sering dimanfaatkan sebagai insektisida obat nyamuk yang mengandung berbagai bahan kimia. Kandungan kimia tanaman sereh lebih banyak pada batang dan daunnya. Sereh yang telah diekstrak biasanya mengandung sitral, sitronela, mirsena, nerol, farsenol, methyl heptenon dan dipentena. Tembakau yang biasa digunakan sebagai bahan dasar pembuat rokok juga mempunyai kandungan kimia yang dapat digunakan sebagai bioinsektisida seperti halnya sereh. Kandungan kimianya tembakau adalah nikotin, alkaloida, saponin. flavonoida dan politenol. Alkaloid-alkaloid aktif yang lain dalam tembakau termasuk alkaloid harmala. Senyawa flovonoida pada tembakau merupakan senyawa umum yang sering ditemukan pada tumbuhan dan termasuk pada golongan fenol.
Senyawa- senyawa kimia yang terkandung pada kedua tanaman ini terdapat dalam dosis rendah sehingga tidak membahayakan pada manusia jika termakan, namun lain halnya jika tembakau di bakar pada rokok karena akan terjadi perubahan bentuk senyawa menjadi senyawa berbahaya lainnya. Kandungan senyawa kimia yang rendah ini akan berbeda dampak yang ditimbulkan terhadap organisme lain sesuai dengan kemampuan organisme itu sendiri.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perilaku perubahan ikan pada air yang diberi sereh maupun tembakau menunjukkan perilaku yang hampir sama, yaitu tidak adanya perubahan perilaku yang berarti terhadap keberadaan kedua bahan ini. Namun pada baskom yang dicampur ekstrak sereh sebanyak 50 ml sereh kedalam 4 L air,  ikan yang semula bergerak bebas dan tenang kemudian terdapat satu ikan yang mulai panik pada 10 menit dan kemudian loncat keluar dari baskom pada 15 menit. Hal ini dapat disebabkan ekstrak sereh yang mengandung salah satu senyawa kimia yang dapat mematikan organisme yang meyerapnya jika terjadi kontak secara terus menerus. Senyawa kimia yang dimaksud adalah Sitronela, dimana senyawa ini mempunyai kemampuan racun yang menyebabkan suatu organisme kehilangan cairan tubuhnya jika terjadi kontak secara terus menerus. Kehilangan cairan inilah yang menyebabkan ikan gelisah dan loncat keluar dari baskom. Sebenarnya dampak kandungan sereh akan terlihat jika waktu terpaparnya relative lama, karena menyebabkan dampak yang kronis. Perilaku salah satu ikan yang menunjukkan kegelisahannya dapat dikarenakan kondisi awal ikan tersebut memang sudah tidak stabil, sehingga ketika berada pada kondisi sereh ikan tersebut merasakan hal yang tidak biasa dan mulai panik.
Pada tembakau selama 15 menit ikan diamati tetapi ikan tidak memberikan reaksi apapun. Kandungan senyawa pada tembakau yang rendah namun berbahaya jika terpapar terus menerus terhadap orgnisme juga dapat menyebabkan kematian namun waktu yang diperlukan relative lebih lama karena dampak yang dirimbulkan bersifat kronis.
Ikan sebenarnya mempunyai enzim sitokrom P450 yang mempunyai fungsi ganda. Banyak racun yang dapat didegradasi oleh enzim ini, tetapi yang tidak dapt didegradasi akan diakumulasi didalam tubuh ikan. Ada tiga mekanisme pada insang yang dapat membatasi masuknya xenobiotik ke dalam tubuh ikan, yakni : Limitasi pernapasan, Limitasi difusi dan Limitasi perfusi.  Komposisi pada insang juga menyebabkan zat yang lipofilik mudah diserap dibandingkan yang hidrofilik.




IV.             PENUTUP

4.1.            Kesimpulan
Sereh dan tembakau merupakan jenis tumbuhan yang mempunyai racun atau dikenal juga dengan biotoksin. Biotoksin yang berada di dalam kedua tanaman ini terdiri dari berbagai senyawa kimia namun dalam jumlah dosis yang kecil, sehingga tidak berbahaya bagi manusia. Biotoksin ini akan mulai menunjukkan dampaknya jika terpapar atau terjadi kontak secara terus menerus oleh organisme. Waktu yang diperlukan untuk berdampak pada organisme berbeda – beda tergantung pada kemampuannya masing-masing. Ikan mas dipilih menjadi satwa uji karena mempunyai sifat sensitfitas yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Kematian suatu jenis organisme dalam jumlah yang cukup besar dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem, sehingga dapat menyebabkan suatu jenis organisme lainnya mengalami kematian tidak langsung hingga pada akhirnya dapat masuk kedalam tubuh manusia. Maka penggunaan pemutih dan pewangi pakaian perlu dibatasi agar tidak merusak lingkungan.












DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Bahan Kimia disekitar Kita.http://inchemistryzone.blogspot.com/
Soemirat, Juli M.Sc dan Indah Rachmatiah .2003.Toksikologi Lingkungan .Bandung:Gadjah Mada University Press.
Sutjipto, A.H., Fitriana, N. dan Sunyata, A., 2002, Pengaruh Ekstrak Daun Tembakau sebagai Bahan Pengawet Kayu Terhadap Serangan Rayap Kayu Kering pada Kayu Kelapa, Prosiding Seminar Nasional V MAPEKI, Bogor, 30 Agustus 1 September 2007.
Yadi Rohyadi,M.Sc.2008.Pendidikan Lingkungan Hidup.Bogor:Setia Jaya Mandiri.
Posted 29th November 2010 by miftah_thata

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share It