Jumat, 18 Mei 2012

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN


Nama      :  VIVIEN ANJADI SUWITO
NIM         :  1005120705
Prodi      :  Pendidikan Kimia
Tugas    :  Dasar-Dasar Pendidikan MIPA

Periode Operasi Formal (11 - Dewasa)
Tahap operasi formal ini adalah tahap akhir dari perkembangan kognitif secara kualitatif. Anak pada tahap ini sudah mampu melakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abtrak dan menggunakan logika. Penggunaan benda-benda konkret tidak diperlukan lagi. Anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan dengan objek atau peristiwanya berlangsung. Penalaran terjadi dalam struktur kognitifnya telah mampu hanya dengan menggunakan simbol-simbol, ide-ide, atraksi dan generalisasi. Ia telah memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan operasi-operasi yang menyatakan hubungan di antara hubungan-hubungan, memahami konsep promosi.
Karakteristik dari anak pada tahap ini adalah telah memiliki kekampuan untuk melakukan penalaran hipotesis-deduktif, yaitu kemampuan untuk menyusun serangkaian hipotesis dan mengujinya. Kesimpulan pada tahap ini adalah : Pada tahap operasional formal, anak-anak sudah mampu memahami bentuk argumen dan tidak dibingungkan oleh isi argument (karena itu disebut operasional formal).
Tahap ini mengartikan bahwa anak-anak telah memasuki tahap baru dalam logika orang dewasa, yaitu mampu melakukan penalaran abstrak. Sama halnya dengan penalaran abstrak sistematis, Operasi-operasi formal memungkinkan berkembangnya sistem nilai dan ideal, serta pemahaman untuk masalah-masalah filosofis.

Kesimpulan pada tahap ini adalah:
i.     Pada tahap operasi formal, anak-anak sudah mampu memahami bentuk argumen dan tidak dibingungkan oleh isi argumen (karena itu disebut operasi formal).
ii.     Tahap ini mengartikan bahwa anak-anak telah memasuki tahap baru dalam logika orang dewasa, yaitu mampu melakukan penalaran abstrak. Sama halnya dengan penalaran abstrak sistematis, operasi formal memungkinkan berkembangnya sistem nilai dan ideal, serta pemahaman untuk masalah-masalah filosofis.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

1. Tujuan Pembelajaran
·    Menjelaskan sifat koligatif larutan.
·    Menjelaskan pengaruh zat terlarut terhadap penurunan titik beku larutan dan kenaikan titik didih larutan.
·    Memberi contoh fenomena kenaikan titik didih dan penurunan titik beku.

2.  Indikator
·      Menjelaskan pengertian sifat koligatif larutan.
·      Mengamati penurunan titik beku suatu zat cair akibat penambahan zat terlarut.
·      Mengamati besar kenaikan titik didih suatu zat cair akibat penambahan zat terlarut.

3.    Materi Pembelajaran
·    Sifat Koligatif Larutan
·    Titik Beku dan Titik Didih Larutan

4. Strategi Pembelajaran
·      Pendekatan  :  Keterampilan proses
·      Metode         :  Eksperimen dan diskusi

Contoh Pembelajaran Kimia SMA Berdasarkan Teori Piaget
Sifat Koligatif Larutan

Konsep yang diajarkan        : Sifat Koligatif Larutan
Sub Konsep                         : Sifat Koligatif Larutan non Elektrolit
Metoda yang dipakai            : Eksperimen dan diskusi
Alat dan Bahan                    :
            Alat :
1.  2 buah Gelas Kimia 400 mL
2.  Termometer
3.  Pemanas
4.  Sendok Pengaduk
            Bahan :
1.    Air Suling
2.    NaCl 1,0 M
3.    Es Batu

Cara Kerja :
A.   Membandingkan titik didih larutan NaCl dan air
1.    Isi gelas kimia pertama dengan 200 mL air suling.
2.    Hitung jumlah garam NaCl yang dibutuhkan untuk membuat 200 mL larutan NaCl 1,0 M (Mr NaCl = 58)
3.    Isi gelas kimia kedua dengan 200 mL larutan NaCl 1,0 M yang telah dibuat, kemudian panaskan kedua larutan tersebut.
4.    Setelah mendidih, ukur suhu masing-masing dengan thermometer . Bagaimana titik didih larutan NaCl dibandingkan air.

B.   Mengamati penurunan titik beku larutan NaCl
1.    Sediakan 200 mL air campur es batu. Ukur dan catat suhu air es tersebut.
2.    Tambahkan 50 gram garam ke dalamnya dan aduk. Catat suhunya.
3.    Tambahkan 50 gram garam lagi dan aduk kembali. Catat suhunya.
4.    Lakukan terus penambahan garam dan ukur perubahan suhu yang terjadi.

Alasan menggolongkan eksperimen sifat koligatif larutan ke dalam tahap perkembangan formal operasional adalah :

Karena pada tahap ini siswa dapat melakukan operasi secara logis tetapi masih mempunyai pengalaman yang terbatas. Siswa sebelumnya mungkin telah merasakan fenomena sifat koligatif larutan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak menyadarinya dikarenakan pengetahuan dan pengalaman yang masih terbatas. Misalnya pada es krim digunakan garam untuk menurunkan suhu di bawah titik beku air atau saat memasak air gula yang memerlukan waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan memasak air biasa. Siswa telah mengetahui dan mengalami fenomena itu, tetapi belum menyadari itu adalah suatu gejala alami dari sifat koligatif larutan yang dapat dipelajari dan dikembangkan untuk aplikasi dalam kehidupan yang lebih bermanfaat.

Menurut Piaget, proses pembelajaran yang tepat pada tahap formal operasional ini adalah menjadikan siswa sebagai factor utama, yaitu pembelajaran yang berpusat pada  siswa. Model pembelajaran ini memberi kesempatan siswa untuk mengeksplorasi dan berekpresi dalam mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya. Sedangkan peran guru disini adalah sebagai pembimbing dan fasilitator untuk siswa tersebut.

Dalam pembelajaran mengenai sifat koligatif larutan, digunakan metode eksperimen.Hal ini bertujuan :
1.     Siswa melakukan sendiri percobaan dan menganalisa hingga sampai pada suatu kesimpulan.
2.     Siswa mampu menghubungkan gejala-gejala alami yang berkaitan dengan sifat koligatif larutan dalam kehidupan sehari-hari.
3.     Siswa dapat melakukan kegiatan secara berkelompok yang menimbulkan interaksi social dengan teman kelompoknya. Ini mendorong perkembangan kognitif dan psikomotoriknya.

Dengan demikian, metode eksperimen ini dinilai lebih tepat untuk mengenalkan konsep sifat koligatif larutan pada tahap perkembangan formal operasional. Selain itu melalui diskusi, guru dapat merangsang siswa untuk dapat berpikir tentang gejala alami yang berkaitan dengan sifat koligatif larutan serta aplikasinya dalam kehidupan. Jadi, siswa yang memikirkan fenomenanya, bukan guru yang langsung memberikan contoh, sehingga dapat tercapai pembelajaran yang berpusat pada siswa (Child Center) menurut Jean Piaget.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share It